Poem

Kembali ke Peraduan

Angin syahdu meniupkan sehelai dandelion menjauh dari hamparan ladang ilalang…
Rapuh ia menjauh dr bumi melesat tinggi di awang-awang… hingga angin lembut pun meninggalkannya di tengah hamparan indah Helianthus,

Sosok kuning yg tak pernah sendiri, seakan menaungi rapuhnya dandelion kecil dari sengatan panas Surya dan lebatnya deraian bulir-bulir langit dikala mendung menutup jingganya nirwana

Syahdu sungguh, bila lama ku kira. Namun singkat bila, telah datang masa kuningpun hanya miliknya… si rapuh tetaplah rapuh…

“Aku menunggu dedaunan di pohon sana berangsut terbang bebas. Penanda angin kan menjemputku pergi jauh dari tempatku berada… Aq tak akan mengelakkan lagi bila harus kembali pada ladang ilalang…
Kembali diam membisu bersama tajamnya helaian tepi dan rimbunnya tinggi menyembunyikanku.”

Advertisements
Kisah

Putri, Panglima dan Penasehat

Kisah sejarah banyak memberikan pelajaran bagi kehidupan. Tak ayal kita mendapati nasehat bahwa,

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat akan sejarah negerinya” (Bung Karno).

Walaupun kita tidak hidup di zaman dimana banyak kerajaan didirikan dan adanya kasta yang memisahkan kehidupan sosial masyarakat. Kita hidup di zaman modern, sosial masyarakat terbangun dan berjalan tanpa adanya dinding pemisah antara si kaya dan si miskin namun masih ada sampai saat ini beberapa kalangan menamakan dirinya si konglomerat dan si miskin.

Lepas dari cerita si kaya dan si miskin. Disini saya ingin menceritakan kepada kalian sebuah kisah (yang entah ini hanya rekayasa belaka ataupun terinspirasi dari kisah nyata), semoga kita dapat mengambil manfaat dibaliknya.

Alkisah, disuatu desa tinggallah seorang pemuda berperawakan sedang berkulit kuning langsat bermata bulat namun dengan keterbatasannya dalam melihat jarak dekat ia pun mengenakan alat bantu. Ia memiliki cita-cita tinggi untuk menjelajah seluruh daerah yang bisa ia capai. Pemuda yang aktif, supel dan memiliki banyak teman disetiap ia singgah di tempat-tempat kunjungannya membuat ia betah berlama-lama dan meninggalkan kampung halaman. Pemuda ini bukanlah seorang anak yatim, orangtuanya masih hidup dan hidup damai di kampung. Sang pemuda sudah terbiasa hidup berpisah dengan orangtuanya sejak ia masih kanak-kanak.

Suatu hari yang hangat, si pemuda sedang asik menyusuri sungai dan mengasah beribu macam cara agar bisa mengarungi sungai ini hingga ke hilir. Perlahan ia melempari kerikil-kerikil yang ada di bawah kakinya ke pertengahan badan sungai. Riaknya dalam, dan arusnya pun cukup deras.

“Bisakah aku berenang saja hingga ke hilir?”

Hasil gambar untuk river sketch

inspirated by emaze.com

 

Poem

Surga… sederhana

Jadikanlah apa yang dilakukan setiap hari menjadi nilai yang berharga…

Setiap helaan nafas, kedipan mata hingga membuka bibir mengucapkan kata…

Tiada illah yang hari-hari kau ingat dan tujukan

Langkah menjadi dzikir tidak hanya untukmu melainkan bagi mereka yang mengejar fajar bersamamu

Mereka yang juga menjemput subuh dengan awal sujud padaNya

berlomba mengejar mentari, meneteskan peluh untuk menghidupi titipan surga di rumah-rumah mereka

 

Surgamu? Bahkan kau belum memiliki titipan dari separuh agamamu…

Kau masih memiliki surga di telapak-telapak kaki malaikat surgamu

ada pahlawan tangguh yang selalu mengajarkanmu untuk selalu tegar menghadapi masalah

pelajaran yang tiada melawan hitam dengan hitam, lakukanlah dengan memberi sinar putih bagi mereka yang tiada suka dengan kebaikanmu

Sosok yang akan berat melepasmu kelak di waktu Dia mentakdirkanmu menemui belahan agamamu

Mereka adalah surgamu saat ini, tiada usah risaukan apa yang akan menjadi rahasia hidupmu di masa depan

Surga dunia yang mempertalikan dengan surga sesungguhnya

 

Selama nafas masih dapat melalui rongga tubuhmu, tersenyumlah melepas segala angin kegelapan yang seringkali menyesakkan separuh hidupmu

Tersenyumlah memandang kesederhanaan yang ada melintasimu

Karena kemewahan akan membuatmu lupa betapa sederhana membawa kedamaian

Terkadang mewah dapat menyesakkan dan mengembalikan angin kegelapan tanpa mengundang awan kelabu

Ia akan perlahan menutup setiap jendela keterbukaan menjadi penuh debu

memalingkanmu dari keteduhanmu menjadi bara yang akan semakin merah padam

Dan sesegera mungkin meruntuhkan sebagian jiwamu menjadi abu kelabu

Sederhanalah mencintai apa yang menjadi bagianmu sekarang, sering-seringlah menatap apa yang mendorong dan menggenggam erat tanganmu dengan sesekali menatap ke atas bagaimana keadaanmu saat ini.

Wahai hati, tetaplah berlabuh pada dermaga illah. Benamkanlah jangkar rindu baginda Rasulullah dalam samudera paling dalam. Hiruplah zikir udara surga walau kau masih sangat jauh dari surga yang akan menantimu kelak. Tersenyumlah walau angin kegelapan mulai menyentuh keteguhanmu, rasakanlah dengan tawaddu kepahitan yang menghampirimu dan bilaslah dengan nikmatnya kesabaran bagai madu menyentuh lidah setelah pahit.

Rindukanlah surga

 

Poem

Berharta untuk Ilahi

export (1)

Bulan Dzulhijjah telah datang menghampiri kami kaum muslimin. Bulan dimana Hari raya kedua umat muslim akan dirayakan diberbagai belahan dunia. Hari raya yang akan diwarnai dengan berbagai hikmah akan kisah Nabi Ibrahim. Ketaatan bapak para nabi ini pada Allah tidak akan ada yang mengunggulinya, terutama bagi kami yang hidup di zaman seperti saat ini. Zaman dimana gadged menjadi barang mewah yang biasa dan nyaris wajib ada bagi mereka yang mengaku “kece/gaul”.

Kebanyakan anak-anak muda di zaman ini yang telah berpenghasilan berlomba-lomba memperbarui gadged mereka dengan produk teknologi tercanggih setiap tahunnya bahkan setiap ada booming gadged terbaru mereka akan sangat antusias browsing dan nongkrong di toko-toko handphone. Mereka akan sangat bersemangat menabung tiap bulannya untuk menyisihkan sebagian hasil kerja keras mereka untuk memiliki harta terkeren yang diimpikannya. Entah semahal apapun harganya yang penting “lebih keren dari milik tetangga kalo perlu”. Semakin canggih teknologi gadged yang dimiliki, akan semakin canggih pula mereka menggunakannya, yang paling sering dipergunakan sebagai alat mengabadikan momen diri alias selfie, medsos ataupun bermain game. Harga gadged sangat bervariasi, dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupian. Semakin bagus gadgednya, semakin tinggi harganya. Mereka pun tak tanggung-tanggung menggunakan brand terpopuler di dunia. Bisa dibayangkan harganya akan lebih mahal dari harga hewan qurban.

Jika kita mau berkaca akan hikmah pengorbanan dari nabi Ibrahim as., akan betapa besar pahala yang akan kita dapat dari berharganya harta yang kita punya bila dipergunakan di jalan Allah. Harta terbesar dari nabi Ibrahim as. adalah anak lelaki yang sangat disayanginya, namun akan kecintaan luar biasa pada Tuhannya maka pengorbanan untuk menyembelih putranya dilakukannya dengan penuh keikhlasan Lillahi ta’ala. Allah menguji Ibrahim as. dengan sebaik-baik kecintaanNya pada hamba. Allah pun menggantikan putra Ibrahim as. dengan seekor kambing. Makna pengorbanan akan cinta kepada Lillah.

“Berharta untuk Illahi…”

Karena hakikat harta akan habis bila secara fisik kita pergunakan di kehidupan dunia. Harta sesungguhnya adalah amalan dibalik harta. Bagaimana niat memperolehnya, cara mendapatkannya dan untuk apa dimanfaatkannya? Apakah sebagai perhiasan diri, aksesoris yang dapat dipuja puji orang lain, ataukah memberikan kebermanfaatan bagi kehidupan orang lain dengan kata lain dapat menghidupi keluarganya dan memberikan kenikmatan beribadah pada Tuhannya.

Kita mampu membeli gadged dengan harga jutaan, boleh-boleh saja. Tapi janganlah lupa, akan sekeliling kita. Masih banyak saudara-saudara kita di luar sana yang jauh akan kecukupan hidup. Bukan akan kemalasan ataupun kesialan mereka yang menjadi jauh dari kecukupan. Melainkan ujian Allah akan kesabaran. Ujian harta merupakan salah satu penyebab jauhnya manusia dari penciptaNya.

“Harta untuk Illahi…”

Kemampuan kita memperoleh harta akan lebih baik disandingkan dengan niat dan cara memanfaatkan harta untuk kehidupan kelak setelah kita wafat. Karena harta tidak akan dibawa ke liang lahat, melainkan pahala jariyah yang akan memberikan penerang bagi gelapnya pusara kelak.

Mari kita berniat menyisihkan sebagian harta ditiap kesempatan kita mendapatkan titipan dari Illahi. Berqurban memaknai hikmah dibalik Nabi Ibrahim as., hikmah Berharta untuk Illahi. Insya Allah kamu bisa 🙂

Poem

1/4 Abad Penantian

Usia yang tidak muda lagi. Sejak 4 perkara tersebut ditiupkan kedalam ruh pada saat 4 bulan pula didalam rahim ibu. Kita tidak akan tau bagaimana rezeki kita esok hari tanpa ada usaha untuk mengikhtiarkannya, walaupun itu sudah menjadi takdir Allah.

Disaat ini pula bila banyak diantara kawan seusiamu telah menggenapkan separuh diennya dan engkau belum, maka janganlah sedih ataupun risau, yakinlah si dia sudah Dia tetapkan namanya dalam tiupan ruh mu dalam 4 perkara jauh sebelum engkau menghirup udara dunia. Maka, jangan henti-hentilah engkau berdoa dan beriktiar sama dengan engkau memperjuangkan pencarian rezekimu. Bila usia semakin berkurang dan seperempat abadmu telah jauh jauh berlalu tanpa ada tanda kedatangannya. Janganlah engkau risau, Allah lebih sayang padamu. Sayangnya Allah dengan menguji kesabaranmu. Bila akhirnya seperempat abad bertambah menjadi lebih dari setengah abad dan engkau rasakan nafasmu tersengal. Seketika kehidupan hanya bersisa diujung ubun-ubunmu, maka tetaplah bersabar. Allah lebih sayang padamu dalam kesungguhan ikhtiarmu, engkau insya Allah akan ditakdirkan menjadi pengantin syurga dan akan didampingkan dengan seorang zaujan sholih seshalih iktiarmu.

Kehidupan dan kematian hanya milik Allah. Bersabarlah dipuncak kegalauanmu di seperempat abad ini. Bawalah hati, pikiran dan akhlak menuju jalan cintaNya. Yang tiada akan diduakan oleh hawa nafsu dunia dengan beraneka ragam tipu muslihat. Jadikan seperempat abad ini menjadi awal pribadi yang lebih baik untuk setengah abad mendatang ataupun seabad bila Dia takdirkan. Seperempat abad penantian, seperempat abad aku berjuang untuk hidup kekal bersama cintaNya dihatiku.

Samarinda, 11 Juli 2016
Bersama gemuruh guntur dan awan kelabu

Opini

Penikmat dan Penolak Sekantong Teh

Aroma sekantong teh akan bernilai biasa bila tak diseduh dengan segelas air hangat dan taburan gula didalamnya. Nikmatnya secangkir teh di sore hari menemani saat-saat memanjakan sejenak peluh dan penat. Aromatik yang terasa melalui panca indera menghantarkan saraf-saraf sensorik maupun motorik saling bekerjasama dengan para hormon endorfin. Racikan yang benar dengan perpaduan rasa pahit, hambar, manis, maupun aroma wangi akan mendatangkan rasa bahagia. Bahagia dalam rasa mengubah pemikiran menjadi lebih luas terbuka memandang dunia dan kehidupan. Seakan setiap teguk akan menghasilkan kata, kata yang terangkai menjadi semanis gula, sekokoh intan, dan seharum sedap malam.

Bagi penikmat teh, minuman ini terasa hidangan mewah dengan berbagai macam aroma, rasa, jenis, maupun lokasi keberadaannya. Beranekaragam upacara, ataupun pesta-pesta jamuan menjadikannya sangat terkenal di mata dunia. Bertempat di teko paling murah sampai poci cantik bermotif vintage kuno menghiasi setiap penyajiannya. Kaya-miskin, tua-muda semua dapat menikmatinya. Sekantong teh dengan rasa sederhana penakhluk tahta. Namun, akan sangat berbeda rasa bila sampai di lidah yang tak suka akan asamnya zat yang terbawa hingga lambung. Segala bentuk penolakan akan dihaturkannya untuk.sekedar menjauhkan sekantong teh tersebut dari mulut cangkir.

Berbaik sangkalah pada dia sang penikmat maupun sang penolak. Mereka memilih alasan tersendiri tanpa harus menghakimi dan berkata kasar pada sekantong teh. Sang penikmat dengan segala cara akan meninggikan apa yang membuatnya bahagia hanya dengan seteguk cairan berwarna kecoklatan, kekuningan bahkan kehijauan bak sebening kristal. Jutaan maupun milyaran kata-kata indah akan terhatur disetiap hela tegukannya. Begitupula dengan sang penolak, ia tidak akan menghardik dengan berjuta bahkan milyaran kata-kata kasar pada senyawa-senyawa yang ada disetiap racikan cangkir hidangan beraroma khas ini. Sang penolak paham betul, bagaimana pendahulunya mengajarkan berbuat baiklah kepada siapapun bahkan itu hidangan sekalipun. Jangan pernah menghina ataupun berkata buruk di depannya, bila tidak suka maka biarkanlah dalam diam. Sang penolak lebih tahu apa yang baik untuknya dan hidupnya, itulah yang diajarkan penciptanya melalui setiap sel tubuhnya. Jika dengan menjauhi akan memberikan manfaat bagi orang-orang senasib atau bukan disekitarnya itu lebih baik, maka ia akan menolak dengan baik sebelum sekantong teh tersebut ditawarkan kepadanya.

Sekantong teh, arom para penikmat dan penolak adalah sebagian kecil dari sebuah sikap atas perbuatan dilingkungan kita. Sekantong teh seumoama sebuah masa dimana seseorang akan menjadikannya populer dengan aneka ragam racikan bumbu yang mendewasakannya. Populer dimasa-masa usia menjadikannya ingat akan sebuah momen dimana ia gundah dimasa hidup dan puncak pencapaian emosi di akhir masa usianya. Berbaik sangkalah pada mereka yang hingga kini giat mencari pencapaian terbaik di usianya. Berbaik sangkalah bagi mereka yang menolak dengan segala kebaikan sikap atas ketertutupannya menyikapi. Berusahalah membantu sekantong teh para penikmat dengan mengambil kebermanfaatan bagi sang penolak. Bila tidak dengan sikap, maka lakukanlah dengan kata-kata baik yang tak didengar oleh telinga mereka sang penikmat dan sang penolak sekantong teh.

Gunung Kelua, Jalan Muara Pahu Juli 2016

Di siang terik dengan memori sekantong teh yang tak diseduh

Kisah

Oleh-oleh

Setelah sekian lama tidak menulis, hari ini mencoba untuk mengulang kembali bagaimana belajar merangkai kata. Mohon maaf jika saat membaca kurang berkenan.Kali ini saya ingin membicarakan oleh-oleh. Oleh-oleh yang luar biasa tidak ternilai harganya dibanding seluruh harta di muka bumi. Begitu agungnya ciptaan sang khalik, terhimpun dalam suatu panorama keindahan semesta.

Bila ada saudara, keluarga, teman ataupun kerabat kita sedang di luar kota tugas dinas, melancong ataupun sedang mengenyam pendidikan alangkah baiknya kita tidak memberatkan mereka dengan “Nitip oleh-oleh”. Doakanlah ia semoga perjalanannya penuh keberkahan, dilancarkan segala urusannya dan kebaikan selalu bersamanya. Sekalipun mereka nantinya membawakan kita buah tangan, itu adalah rezeki bagi kita dan juga untuknya.

Tidak ada angin dan hujan, 2 hari lalu salah seorang adik yang saat ini berkuliah di Jember (semoga Allah selalu menjaganya), mengirimkan beberapa foto pemandangan yang luar biasa cantik ciptaan Sang Kuasa. Ingin rasanya suatu hari nanti dapat merasakan kebesaranNya dengan menikmati alam di bumi Timur pulau Jawa. Foto-foto ini diambil saat ia sedang main ke kota Malang Batu tepatnya di Jalan Gunung banyak lokasi Paralayang.

Foto-foto yang tampak tergambar menandakan suasana pagi nan sejuk dengan selimut kabut beriringan pergi menjadikan gunung tersebutmakin elok. Beberapa pemandangan pohon pinus nampak melengkapi jajaran ekosistem pegunungan.

Terimakasih banyak dik (Fakhruddin Rafi R.). Semoga perjalananmu penuh dengan kebermanfaatan. Mencintai alam dengan kecintaan utama pada penciptaNya. Semoga alam ini selalu terjaga oleh tangan-tangan mereka yang peduli bahwa bumi ini semakin hari makin tua.

Samarinda, 1 Desember 2015

Laboratorium